JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.2
PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL
Disusun oleh :
EVA SUGIANA,S.Pd
CGP ANGKATAN 11 KOTA CIREBON
Facts (Peristiwa):
Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional dimulai pada 03 September 2024. Sebelumnya, saya telah mempelajari Modul 2.1, yang mengajarkan cara mendesain pengalaman belajar dan lingkungan belajar yang merespons kebutuhan belajar murid, sehingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajarannya. Modul 2.2 memperdalam pemahaman saya tentang pentingnya menciptakan pengalaman dan lingkungan belajar yang tidak hanya akademis, tetapi juga memperhatikan kebutuhan sosial dan emosional murid.
Dalam modul ini, saya mempelajari berbagai teknik untuk mengelola emosi, termasuk kesadaran diri dan manajemen diri dengan strategi STOP, serta bagaimana membuat keputusan dengan metode POOCH. Hal ini memberi saya perspektif baru tentang betapa pentingnya keterampilan sosial dan emosional dalam proses pembelajaran.
Pada Demonstrasi Kontekstual, saya diberi tugas untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengintegrasikan Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE). Awalnya, saya merasa kesulitan karena belum pernah sebelumnya melengkapi RPP dengan sintaks-sintaks model pembelajaran yang sesuai dengan KSE. Namun, dengan bimbingan dari Pengajar Praktik, saya berhasil menyelesaikan RPP tersebut secara lengkap, termasuk dengan Pembelajaran Berdiferensiasi dan sintaks-sintaks model pembelajaran yang diperlukan.
Kesulitan awal dalam menyusun RPP ini akhirnya teratasi, dan saya mendapatkan wawasan berharga tentang bagaimana mengintegrasikan aspek sosial dan emosional dalam pembelajaran, yang akan sangat berguna dalam melaksanakan Aksi Nyata ke depan.
Findings (Pembelajaran)
Modul 2.2 telah memperdalam pemahaman saya mengenai pentingnya pendekatan holistik dalam perkembangan murid. Saya semakin menyadari bahwa pendidikan tidak hanya fokus pada aspek intelektual, tetapi juga harus mencakup perkembangan fisik, emosional, sosial, dan karakter murid. Ini penting karena perkembangan sosial dan emosional yang lemah dapat terlihat dari berbagai masalah serius seperti meningkatnya perilaku negatif, penurunan performa akademik, perundungan, tawuran, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, gangguan emosional seperti stres, kecemasan, depresi, hingga kasus bunuh diri pada usia remaja.
Oleh karena itu, penting sekali untuk mengimplementasikan pembelajaran yang menumbuhkan kompetensi sosial dan emosional murid. Sebagai guru, saya memiliki tanggung jawab besar untuk membimbing murid-murid agar mereka dapat mencapai potensi penuh mereka, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Ini termasuk membimbing mereka dalam mengeksplorasi dan mengaktualisasikan potensi mereka sehingga mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Meskipun ini adalah tantangan besar, semangat dan tindakan nyata dari guru akan sangat berpengaruh dalam mewujudkannya.
Materi yang saya pelajari dalam Modul 2.2 sangat berharga. Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) harus dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Pendekatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan dan pengalaman belajar yang menumbuhkan lima kompetensi sosial dan emosional: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Mengembangkan kelima kompetensi ini akan menghasilkan murid-murid yang memiliki karakter yang kuat, disiplin, santun, jujur, peduli, responsif, dan proaktif. Selain itu, hal ini juga mendorong rasa ingin tahu murid tentang ilmu pengetahuan, sosial, budaya, dan humaniora.
Semua ini sejalan dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi dalam Standar Nasional Pendidikan, menunjukkan bahwa pendekatan PSE tidak hanya mendukung perkembangan pribadi siswa tetapi juga memenuhi standar pendidikan yang diharapkan.
Comments
Post a Comment