Jurnal Refleksi Dwi Mingguan 4F MODUL 2.3.COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan 4F

MODUL 2.3. 

COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Disusun Oleh: 

 EVA SUGIANA

CGP ANGKATAN 11  

1. Fakta (Fact)

Coaching adalah pendekatan yang mengutamakan hubungan yang setara dan emansipatif antara coach dan coachee. Sebagai seorang pendidik yang juga memegang peran sebagai coach, saya melihat pentingnya pendekatan ini dalam membangun dialog yang bermakna di antara guru, yang bertujuan untuk memberdayakan mereka dalam proses pembelajaran. Paradigma coaching, yang menitikberatkan pada fokus pada kekuatan coachee, keingintahuan, dan kesadaran diri, membantu guru mengenali peluang baru dalam pengembangan profesional dan personal mereka. Supervisi akademik yang berbasis coaching melibatkan peran coach untuk tidak hanya mengarahkan, tetapi juga membuka ruang refleksi bagi guru untuk menemukan solusi atas tantangan pembelajaran mereka sendiri.


2. Perasaan (Feeling)

Mendalami prinsip-prinsip coaching membuat saya merasa lebih terhubung dengan tujuan pendidikan yang lebih besar. Ada rasa tanggung jawab yang mendalam untuk mendukung rekan-rekan guru dalam menemukan kekuatan mereka, terutama dalam merancang dan menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Sering kali, saya merasa tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara memberikan arahan yang jelas dan membiarkan coachee menemukan jawaban mereka sendiri. Ketika saya berhasil melakukan percakapan yang memberdayakan, saya merasa terinspirasi dan bangga, tetapi ada juga momen di mana saya merasa belum sepenuhnya berhasil mengajak guru menggali potensi mereka sendiri.

Saat memberikan umpan balik, terkadang ada rasa khawatir bahwa saran atau pertanyaan saya tidak cukup memicu refleksi mendalam pada guru. Meski demikian, coaching telah mengajarkan saya bahwa proses ini tidak instan. Ada rasa percaya yang dibangun dari waktu ke waktu, dan sering kali refleksi serta perubahan besar datang setelah proses yang berulang. Kepercayaan terhadap coachee dan proses coaching membuat saya merasa lebih tenang dan yakin bahwa pertumbuhan pasti akan terjadi.


3. Penemuan (Finding)

Coaching berlandaskan prinsip kemitraan dan dialog, bukan hanya instruksi atau bimbingan satu arah. Saya menyadari bahwa kesuksesan coaching sangat bergantung pada kemampuan saya untuk hadir sepenuhnya (presence), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan yang mampu memicu refleksi mendalam. Prinsip-prinsip ini membantu menciptakan percakapan yang tidak hanya berpusat pada masalah yang dihadapi, tetapi juga menantang guru untuk melihat peluang baru dalam setiap situasi.

Selama proses coaching, saya juga belajar bahwa pertanyaan berbobot sering kali lebih efektif daripada memberikan solusi langsung. Pertanyaan ini membuka ruang bagi coachee untuk merenungkan pilihan mereka sendiri dan menemukan jawaban yang mungkin tidak terlihat sebelumnya. Dalam supervisi akademik, pentingnya umpan balik berbasis data yang valid membantu saya memberikan saran yang tidak bersifat subjektif, melainkan didukung oleh fakta dan hasil yang terukur. Ini membantu meningkatkan rasa kepercayaan diri guru bahwa masukan yang saya berikan relevan dengan situasi mereka.

Saya juga belajar bahwa coaching bukan hanya tentang meningkatkan kompetensi teknis guru, tetapi juga tentang memberdayakan mereka secara emosional. Dengan memberikan ruang untuk refleksi dan mendengarkan dengan penuh perhatian, saya dapat membantu rekan sejawat merasa lebih dihargai dan didukung, yang pada gilirannya meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi mereka dalam mengajar.


4. Penerapan (Future)

Ke depannya, saya bertekad untuk mempraktikkan coaching dengan lebih konsisten, terutama dalam hal kehadiran penuh dan mendengarkan aktif. Saya akan lebih berhati-hati dalam mengajukan pertanyaan yang mampu memantik refleksi mendalam, bukan sekadar pertanyaan teknis atau administratif. Alur percakapan TIRTA—yang meliputi perencanaan, pemecahan masalah, refleksi, dan kalibrasi—akan saya gunakan sebagai panduan utama dalam setiap percakapan coaching.

Saya juga akan lebih berkomitmen dalam memberikan umpan balik yang didukung oleh data valid. Hal ini akan meningkatkan objektivitas saya dan membantu guru untuk memahami area pengembangan mereka dengan lebih jelas. Pada saat yang sama, saya akan memastikan bahwa umpan balik saya disampaikan dalam semangat yang mendukung dan memberdayakan, sehingga guru tidak merasa dihakimi, tetapi lebih merasa didorong untuk terus berkembang.

Selain itu, saya menyadari pentingnya refleksi pribadi dalam pengembangan kemampuan coaching saya. Saya akan secara rutin mengevaluasi setiap sesi coaching, menanyakan pada diri sendiri tentang apa yang sudah berhasil dan apa yang bisa saya tingkatkan. Dengan demikian, saya tidak hanya membantu orang lain tumbuh, tetapi juga terus mengasah kompetensi diri saya sebagai seorang coach.

Langkah-langkah Praktis yang Akan Saya Ambil:

  1. Penerapan Kompetensi Coaching: Saya akan secara aktif mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching—kehadiran penuh, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot—dalam setiap sesi coaching dengan guru.
  2. Pemberian Umpan Balik: Umpan balik yang saya berikan akan berfokus pada pertanyaan reflektif yang mendorong coachee untuk memikirkan solusi mereka sendiri, serta didukung oleh data yang relevan untuk memastikan keakuratan dan relevansi saran yang saya berikan.\
  3. Supervisi Akademik yang Memberdayakan: Saya akan memastikan bahwa supervisi akademik yang saya lakukan bukan sekadar penilaian kinerja, melainkan proses yang mendorong guru untuk terus mengembangkan kompetensi mereka melalui refleksi dan dialog.
  4. Praktik Coaching secara Rutin: Saya akan terus berlatih dengan rekan sejawat dan murid untuk mengasah keterampilan coaching saya. Ini termasuk refleksi berkala tentang sesi coaching yang telah saya lakukan untuk mengevaluasi efektivitas saya sebagai coach.
  5. Pendekatan Emansipatif dalam Coaching: Saya akan terus menjaga sikap terbuka dan ingin tahu dalam setiap interaksi, memastikan bahwa setiap percakapan coaching berpusat pada coachee dan didasarkan pada kemitraan serta saling menghargai.

Dengan langkah-langkah ini, saya berharap dapat terus berkembang sebagai coach dan pemimpin yang memberdayakan, serta menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih baik bagi guru dan murid

Comments

Popular posts from this blog

MODUL AJAR BAHASA CIREBON KELAS 2 SEMESTER 2

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL

Koneksi Antar Materi Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi