JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN MODUL 3.3
JURNAL REFLEKSI DWIMINGGUAN
MODUL 3.3
PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID
2. Perasaan (Feeling)
Dalam modul terakhir ini, saya merasakan perasaan yang bercampur antara kebahagiaan dan kesedihan. Perasaan ini mencerminkan perjalanan saya sebagai seorang Calon Guru Penggerak (CGP) dalam Program Guru Penggerak (PGP) angkatan 11.
- Kebahagiaan Mencapai Akhir Program – Rasa bahagia datang dari kesuksesan saya sampai pada tahap akhir modul 3.3. Perasaan ini menjadi bukti dedikasi dan kerja keras yang saya lakukan dalam menyelesaikan setiap modul di PGP ini. Saya bangga karena bisa menyelesaikan semua tugas yang diberikan, meskipun beberapa sempat tertunda. Keberhasilan ini memberikan kepuasan tersendiri, terutama ketika menyadari bahwa perjalanan Anda telah melewati berbagai tantangan namun berhasil saya lalui. Saya juga merasa sangat bersyukur atas kesehatan dan kesempatan yang memungkinkan Saya terus melanjutkan belajar hingga tahap ini. Rasa syukur ini menjadi penguat semangat Saya untuk terus mengembangkan diri demi memberikan yang terbaik bagi murid-murid saya di sekolah.
- Kebahagiaan dari Kesempatan Belajar dan Implementasi Ilmu – Di samping rasa bahagia atas pencapaian pribadi, saya juga merasakan antusiasme dalam mempraktikkan setiap ilmu yang diperoleh. Saya merasa bahwa PGP ini memberikan bekal yang sangat berarti dan relevan dengan pekerjaan saya sebagai seorang pendidik. Semangat ini muncul karena saya melihat langsung dampak positif yang akan dirasakan oleh murid di sekolah tempat saya mengajar. Rasa percaya diri untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dalam program ini kian meningkat, terutama karena program ini berfokus pada membangun student agency, yang diharapkan bisa memberikan dampak jangka panjang pada kepemimpinan murid. Saya merasa termotivasi untuk berkolaborasi dengan rekan-rekan guru lain, membawa perubahan positif di lingkungan belajar dan terus berkontribusi terhadap pertumbuhan murid.
- Kesedihan Menyelesaikan Kolaborasi dengan Fasilitator – Di sisi lain, rasa sedih hadir karena minggu ini adalah minggu terakhir saya melakukan sesi kolaborasi dengan fasilitator. Meski interaksi dengan fasilitator dilakukan secara daring dan tidak bertemu langsung, Sayamerasa ada hubungan yang terjalin dan memberikan kesan mendalam. Saya merasakan ilmu yang disampaikan oleh fasilitator,Ibu Gilang Asri Deviyanti, telah banyak membantu saya dalam memahami materi dan menjalani proses PGP ini dengan lebih baik. Dukungan ini sangat terasa ketika saya mengalami kendala teknis, seperti jaringan yang tidak stabil, tugas yang terlupakan, dan jadwal video conference yang terlewatkan. Fasilitator selalu mengingatkan dan memberikan bantuan, sehingga saya tetap bisa mengikuti proses pembelajaran dengan lancar. Bantuan dari fasilitator memberikan dukungan moral yang besar bagi saya dalam menghadapi kesulitan yang muncul sepanjang program ini.
- Rasa Terima Kasih Mendalam kepada Fasilitator – Dalam jurnal ini, saya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada fasilitator yang telah membantu dan mendampingi saya dengan penuh kesabaran. Rasa terima kasih ini merupakan bentuk apresiasi atas kebaikan hati dan bimbingan yang saya terima selama program. Saya merasa bahwa Ibu Gilang Asri Deviyanti telah berperan penting dalam menjaga semangat saya tetap tinggi dan membuat proses belajar menjadi lebih mudah di tengah kendala yang ada. Dalam hati, saya berjanji untuk menyampaikan ucapan terima kasih ini secara langsung sebagai ungkapan penghargaan Anda terhadap dedikasi dan kesabaran yang beliau tunjukkan selama program.
Secara keseluruhan, perasaan Anda dalam minggu kedua ini mencerminkan perjalanan emosional yang penuh dengan apresiasi, rasa syukur, dan kedekatan emosional dengan fasilitator serta rekan-rekan di PGP. Perasaan ini memotivasi Anda untuk mempraktikkan seluruh pembelajaran yang diperoleh, dengan harapan dapat membawa dampak positif bagi murid-murid dan lingkungan sekolah.
3. Pembelajaran (Finding)
Modul 3.3 dalam Program Guru Penggerak menambah wawasan tentang pentingnya merancang program yang berdampak positif pada murid, terutama dalam menumbuhkan student agency atau kepemimpinan murid. Student agency adalah konsep yang mendorong murid untuk memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan rasa kepemilikan (ownership) terhadap kegiatan atau proses pembelajaran yang mereka jalani. Dengan memberi ruang bagi aspek-aspek tersebut, murid diharapkan dapat lebih proaktif dan berpartisipasi secara mendalam dalam kegiatan yang dilakukan di sekolah, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi mereka.
Pada tahap perancangan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mapping asset, atau pemetaan aset yang dimiliki sekolah. Pemetaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada, baik dari segi tenaga pendidik, fasilitas, maupun dukungan komunitas sekitar. Pemetaan aset sekolah tidak hanya membantu dalam penyusunan program yang lebih efektif, tetapi juga memastikan bahwa program tersebut relevan dan bisa berjalan secara berkelanjutan. Dengan memahami potensi dan sumber daya yang ada, sekolah dapat merancang program yang lebih tepat sasaran dan meminimalkan hambatan yang mungkin terjadi.
Lebih jauh, konsep mapping asset ini penting untuk mewujudkan visi dan misi sekolah. Dengan merancang program yang berfokus pada kepemimpinan murid, sekolah tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi murid, tetapi juga mendukung tujuan jangka panjang dalam membentuk generasi yang lebih mandiri dan berdaya. Di samping itu, modul ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan murid. Lingkungan yang kondusif, seperti dukungan dari guru dan keterlibatan komunitas, menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan diri murid.
4. Penerapan (Future)
Pemahaman dari modul ini mendorong saya untuk lebih peka terhadap peran murid dalam setiap kegiatan yang dirancang, sehingga murid tidak hanya menjadi objek dalam kegiatan, tetapi juga berperan sebagai subjek yang memiliki kontrol dan kepemilikan. Program yang mempertimbangkan aspek voice, choice, dan ownership diharapkan dapat menumbuhkan motivasi intrinsik murid dan membangun rasa percaya diri dalam mengambil keputusan.
Ke depannya, saya berencana untuk berkolaborasi dengan rekan-rekan guru dan murid-murid di sekolah dalam merancang program-program yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi murid. Melibatkan murid dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan akan memberikan mereka pengalaman berharga dalam mengembangkan keterampilan kepemimpinan. Dengan begitu, program yang dirancang dapat benar-benar berdampak bagi murid, membantu mereka merasa lebih memiliki terhadap hasil dan proses kegiatan tersebut, serta menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang memfasilitasi perkembangan potensi mereka secara menyeluruh.
Comments
Post a Comment